ABSTRAK #1

Maka aku melihat sejuk di wajahmu

Itukah engkau???

Kidung malam menepi di batas waktu

Bahkan tak sempat ku tanyakan pada halauannya

Kini…

Tak sempat ku sapa rindu itu pada purnama

Bahkan…

Tak sempat pula ku sapa bintang di langit tinggi

Ahhh… tak perlu berdendang

Tlahhh ku sapa SEMANGAT ku hari ini

 

#30HariMenulis #Chapter 1

Iklan

Nasihat Pernikahan ^^

Yang jelas ini bukan tulisan gue ^^

*Khutbah pernikahan putri Ust. H. Tate Qomaruddin oleh Ust. HM. Anis Matta.

Khutbah nikah ini, ramai sekali di grup WA. So, pengen banget ngeshare di mari….(Semoga dapat diambil manfaatnya untuk yang sudah, maupun belum)


 

Kita seringkali menganggap pernikahan itu adalah peristiwa hati.

Padahal sesungguhnya pernikahan adalah peristiwa peradaban.



Ini bukan cuma tentang 2 manusia yg saling mencinta lalu mengucap akad.

Tetapi bahkan ini merupakan peristiwa peradaban yg mengubah demografi manusia.

 

Pernikahan adalah sayap kehidupan.

Rumah adalah benteng jiwa.

Jika di rumah kita mendapat energi memadai, di luar rumah kita akan produktif.

“Sakinah” bukan cuma “tenang”. Ia berasal dari kata ‘sakan’ yang artinya “diam/tetap/stabil”.

Maka ia menjadikan tenang karena stabil, bukan tenang yang melalaikan.

“Sakinah” adalah perasaan tenang yang lahir dari kemantapan hati.

Manusia menjadi tenang saat kebutuhan-kebutuhannya terpenuhi secara komprehensif.

 

Al Quran menjelaskan: ‘Kami jadikan air sebagai sumber kehidupannya’. Air (mani) merupakan : sumber (simbol) stabilitas (psikis saat diatur volumenya dalam tubuh) dan produktifitas (kualitas semangat & kuantitas keturunan).

 

Hakikat pernikahan tidak bisa dipelajari dari manapun.

Learning by doing. Islam mengarahkan menikah muda agar rasa penasaran itu cepat terjawab.



Agar setelah ‘rasa penasaran’ itu terjawab, perhatian seseorang bisa lebih banyak tercurah dari urusan biologis ke intelektualitas-spiritualitas.



Tidak perlu takut terhadap beban hidup, yang perlu dilakukan hanya mengelolanya.

Sebab pelaut ulung pun lahir setelah melewati gelombang-gelombang samudra.

Yang bisa membuat kita melewati gelombang itu adalah persepsi awal yang benar tentang cinta.

Yaitu cinta sebagai dorongan untuk terus memberi pada yang kita cintai.

Hubungan yang terbina dari sini bukan hanya hubungan emosional, tapi juga spiritual-rasional.

“KARENA KELUARGA INI ADALAH BASIS SOSIAL TERKECIL UNTUK MEMBANGUN PERADABAN”

From My Lovely “Murrabi”

Maka ketika para sahabat dipuji Rasul dengan statemen

“Sahabat-sahabatku adalah bintang-bintang di langit, kepada siapa engkau merujuk, engkau akan mendapatkan petunjuk”..

Bukan karena mereka adalah orang-orang yang mengejar prestise dan gelar tersebut…

Mereka hanyalah orang-orang yang mengejar syurga dan mengejar jalan terbaik untuk meraih syurga

Tiada rindu yang membuatnya berdebar kecuali keinginan bertemu Rabb dan syurga-NYA…

Maka mereka menjadi seperti orang yang jatuh cinta dengan segenap perasaan kepada kekasihnya…

Maka bukan janji gombal tapi sebuah bukti cinta mereka kepada Rabb-NYA, menghantarkannya menjadi para bintang di langit…

CINTAKAH KITA PADA RABB DAN SYURGA-NYA????

Mari merancang persembahan terbaik untuk-NYA….

Selamat beristirahat untuk mengumpulkan energi terbaik untuk esok hari….

 

Kutulis kembali (Bogor, 06-Juni-2011 diterima 23:52:15)

SEMANGAT yang tak pernah terbeli

Ki Sabar (70 tahun) dan Ni Sukar (66 tahun), nama yang tak pernah seterkenal Nazaruddin. Nama yang tak penah seterkenal Anang dan Krisdayanti. Nama yang tak pernah muncul di majalah-majalah ataupun surat kabar. Pun, nama yang tak pernah seterkenal presiden kita “SBY”. Tetapi dua nama yang begitu terkenal di desa kami. Ki Sabar dan Ni sukar, suami istri yang bekerja hanya sebagai penjual mainan anak-anak. Balon dan bola karet warna-warni itulah yang mereka jual sehari-hari. Pekerjaan itu sudah mereka tekuni selama berpuluh-puluh tahun. Untuk “berkulak” barang dagangan, mereka biasanya mencari di Kebumen, kota kabupaten yang berjarak 12 km dari desa kami. Tak jarang mereka berjalan kaki untuk menempuh perjalanan Pedurenan-Kebumen, “ngirit duit”, katanya.

Tentu tak banyak rupiah yang bisa mereka kumpulkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Tak banyak pula keuntungan yang mereka bisa kumpulkan dari penjualan mainan itu. Ya, hanya balon dan bola berapa keuntungan yang bisa didapat. Tapi sungguh dengan penuh rasa kesyukuran mereka mengiba dalam harap, “wes alhamdulillah mba nek dodolane laris kabeh“. Ki Sabar dan Ni Sukar, yang seharusnya menikmati masa tuanya, harus berjuang untuk melawan kerasnya hidup. Baginya umur tak pernah menghalanginya untuk mencari. Semangat untuk tetap hidup, itulah motivasi terbesar.

 

Menitip Doa pada-MU

Ya Allah…

Jadikanlah yang Terbaik dari usia kami adalah akhir usia kami di dunia..

Ya Allah…

Jadikanlah yang Terbaik dari amal kami adalah penutup amal kami di dunia..

Ya Allah…

Jadikanlah yang Terbaik dari hari kami adalah dari disaat kami bertemu dengan Mu..”

Cinta kita untuk sebuah perjuangan

ENERGI YANG TIADA TERPUTUS
(UST. CAHYADI TAKARIAWAN)

“Cinta kita pada dakwah inilah yang akhirnya membuat energi kita selalu besar, selalu ada, dan terus ada untuk memperjuangkan dakwah kita”

Alhamdulillah, ikhwah, dakwah kita saat ini sedang berada dalam kondisi transisi, transisi dari satu tahapan satu ke tahapan yang lain. Transisi dari mihwar muassasi ke mihwar dauli. Maka untuk menuju mihwar yang lebih luas tersebut, dimana tantangan yang kita hadapi akan semakin kompleks, dibutuhkan profil – profil seorang negarawan sejati. Ketika kita menginginkan mihwar daulah, maka mental kita harus dirubah, menjadi memiliki mental daulah, seorang rijaluddaulah.

Ikhwah, ada satu kisah menarik yang ingin saya sampaikan kepada antum semua, yaitu tentang energi cinta dalam dakwah ini. Energi cinta kita dalam dakwah inilah yang membuat kita sampai saat ini masih tetap istiqomah untuk terus membersamai dakwah. Energi cinta itulah yang menjadi daya penguat kita sehingga kita bisa tetap eksis berada dalam kereta dakwah ini, meskipun terpaan angin, rintangan, halangan itu terus saja menghalangi kita, tetapi hal itu justru membuat kita makin kuat saja dalam dakwah ini, dan hal itu karena satu hal. Kita begitu mencintai dakwah ini.

Saya ingin mengilustrasikan tentang seni menikmati dan mencintai dakwah itu dari perenungan saya sepanjang perjalan dari Jogja-Semarang, beberapa waktu lalu. Kondisi jalanan di sekitaran Ambarawa padat merayap, dengan truk – truk besar yang berjalan lambat itu, kadang membuat kita jenuh juga.

Akan tetapi, setelah saya merenung, ternyata ini adalah bentuk jihad kita untuk senantiasa bersabar atas segala sesuatu yang kita alami. Begitu pun ketika mobil yang saya tumpangi tersebut berhasil menyalip truk besar tersebut, ada kelegaan sedikit, tetapi setelah berhasil menyalip, akan ada truk – truk besar lagi yang berada didepan kita. terus seperti itu.

Energi yang tiada terputus

Kalau kita umpamakan perjalanan Jogja-Semarang tersebut adalah tentang dakwah ini, kita pun akan mengambil satu kesimpulan bahwa, setelah kita menyelesaikan suatu urusan, kita harus siap dengan urusan selanjutnya. Atau bisa kita analogikan, setelah kita berhasil menaklukkan satu badai, akan muncul badai – badai selanjutnya yang lebih kuat, lebih besar, dan menuntut daya dan ketegaran kita dalam menaklukkan badai tersebut.

Ikhwah, begitulah dakwah kita saat ini. Di masa – masa dakwah yang terus bersemi dan berkembang menuju puncaknya, justru badai – badai akan semakin kuat dan besar menghalangi laju kereta dakwah kita. maka butuh satu kekuatan, maka butuh energi yang tiada terputus untuk menguatkan kita dalam membersamai dakwah ini. Maka energi yang tiada terputus itu adalah rasa cinta kita pada dakwah ini. Cinta kita pada dakwah inilah yang akhirnya membuat energi kita selalu besar, selalu ada, dan terus ada untuk memperjuangkan dakwah kita.

Seni mencintai dakwah

Ikhwah, ada satu peristiwa yang mungkin ini adalah bagian yang semakin menguatkan tekad saya untuk terus istiqomah dan mencintai dakwah ini. Satu peristiwa tersebut adalah ketika saya diamanahi menjadi Ketua Wilda Sulawesi, suatu ketika menyaksikan betapa ikhwah yang berada di daerah dengan kondisi yang minimalis, baik kadernya maupun infrastuktur dakwahnya, ternyata hal tersebut tak menghalangi niatnya untuk berdakwah. Mereka begitu tulus bekerja dan mendakwahkan Islam di daerahnya. Mereka tak terlalu peduli urusan di pusat, karena yang mereka pikirkan adalah mengelola daerahnya masing – masing, mampu memberikan efek dakwah Islam kepada obyek dakwah di daerahnya.

Dahsyat, inilah yang saya maksud dengan seni mencintai dakwah itu. Mereka mencintai dakwah ini sehingga dari sikap yang begitu mencintai dakwah, maka Allah Azza Wa Jalla anugerahkan energi yang tiada terputus itu, meskipun mungkin fisik terbatas, sarana terbatas, akan tetapi ketika energi cinta yang tiada terputus kepada dakwah ini terus membara, maka hal tersebut sudah cukup untuk memenangkan dakwah ini.

Maka ikhwah, mari kita mencintai dakwah ini, dimanapun, kapanpun, bersama siapapun kita berada. Insyaallah energi kita tidak akan pernah habis dan terputus. Semoga istiqomah.

Wallahua’lam.

# Catatan :

Merasa belum berarti apa-apa

Dia ALLAH Yang Maha Menguatkan

Allah hanya meminta kita SABAR sebentar

HARAPAN ITU MASIH ADA

Nyobi-nyobi ^^

Pepaya VS Agar-agar……
Ceritanya lagi nyobi-nyobi alias mencoba alias njajal….

yuhuuuu..akhirnya berhasil juga…

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Coretan (1)

Benar sekali…
ketika kamu ingin menulis yang berkualitas…
ingin tulisanmu hidup…
menulislah dari hati…

#belajar setahap demi setahap

We are T.H.P 43

thp…

tiap hari praktikum

tiap hari paper

tiap hari pusing

tiap hari pulang malam

tiap hari…

tiap hari…

pasti BISA…!!!! THP 43

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

So Inspiring 4 U Muslimah

Dalam tulisan kali ini..ingin sekali menuliskan kembali kultweet dari bang Effendi @eae18 (heheheh) ngambil dari tweet beliau (tenang pemirsah..dah ijin kok)…hemmm twett yang sangat menginspirasi..so sayang banget kalo ga didokumentasikan alias ditulis ulang dan dishare disini …..

Cekidot Kultweetnya…..

(1/9) Wajahmu kusam, jilbabmu kumal. Tak ada cahaya dalam ragamu. Tak ada jiwa dalam hidupmu #RUHJilbab

(2/9) Jilbab bukan aksesoris. Jilbab itu ruh hidupmu. Penggerak segala jejak. Penanda segala mata #RUHJilbab

(3/9) Jilbab itu bukan terror. Jilbab itu mentor hidupmu. Bersandarlah pada kalbumu, menyibak segala cuaca #RUHJilbab

(4/9) Jilbab itu penanda segala tanya. Peneduh segala resah. Berteduhlah pada kedalaman sukmamu #RUHJilbab

(5/9) Jilbab itu telaga. Penampung segala hikmah. Segala gundah. Luruh  bersama langkahmu. Tetaplah melangkah #RUHJilbab

(6/9) Jilbab itu samudera. Meracik segala cuaca. Menebar seperti buih. Merunduk  bersama gelombang laut. Laut hidupmu #RUHJilbab

(7/9) Jilbab itu payung hidupmu. Tempat berteduh disela hujan. Tempat bersandar disela matahari. Tak usahlah berkeluh kesah #RUHJilbab

(8/9) Jilbab itu rahim hidupmu. Tempat dimana engkau berlabuh. Menerpa sunyi. Menuai bingkai kalbumu #RUHJilbab

(9/9) Jilbab itu bukan rebab tapi sebab, rebab itu gesekan bunyi. Sebab pantulan Ilahi. Tak akan sembab hidupmu jika tetap berhijab #RUHJilbab

Image